Informasi awal.

Suasana kota Jakarta saat itu lagi panas dan ricuh setelah terjadi peristiwa Trisakti, yang menewaskan mahaiswa. Menyusul peristiwa Jembatan Semanggi yang juga menelan korban jiwa. Dimana mana terjadi demontrasi mahasiwa yang menuntut mundurnya Presiden Suharto. Sehari sebelum huru hara, saya sudah mendapat atau mendengar informasi akan terjadi huru hara pada hari Rabu jam 10. Oleh karenanya saya menghubungi per telepon semua keluarga di Jakarta dan Sukabumi. Lalu pada pagi hari H sekali lagi saya hubungi dengan sedikit penegasan saya minta jangan keluar rumah. Atau bagi yang harus berada diluar rumah agar segera mencari tempat berlindung yang aman. Dengan permintaan agar informasi ini disampaikan berantai kepada yang lain. Kepada keluarga inti saya tekankan agar isteri, 48 tahun dan anak saya, 24 tahun tak usah ke Jakarta untuk bekerja. Sementara anak kedua, 13 tahun saya minta agar jangan ke sekolah dan jangan jauh2 dari posisi saya. Malahan saya beri tugas untuk memonitor semua perangkat komunikasi bersama kakanya. Selalu menghubungi saya dengan handie transceiver apabila ada berita penting. Ini perlu buat mencegah dia keluar rumah tanpa diketahui. Maklum saja namanya juga remaja.

Advertisements

Status sosial.

Pada saat itu, saya masih aktif sebagai karyawan Pemda DKI Jakarta. Saya berdomisili di Perumnas I Cibodasari, Jl Kentang V/56, Kecamatan Jatiuwung (sekarang Cibodas) Kodya Tangerang. Saya anggota RAPI Wilayah 04 Tangerang Daerah 10 Jawa Barat dengan callsign JZ10TBS. Sebelumnya saya juga mitra kerja Danramil VII Curug/Jatiuwung sebagai Ketua Ring VIII Curug/Jatiuwung pada Bakorkomwil 0506/BS Tangerang. Di stasiun tetap saya menggunakan perangkat komunikasi 2m pada 143.20 MHz dan 147.00 MHz, perangkat 60cm dan perangkat 11m. Dengan perangkat komunikasi 2m itu saya tahu kalau huruhara itu terjadi sejak dari Jawa Tengah sampai Lampung. Dari perangkat 11m saya tahu juga terjadi di seluruh persada Nusantara.

Bledug huruhara Mei 1998

Iya yah, tau tau dah mau 10 tahun aja peristiwa atau huruhara May 1998 yang nyaris terlupakan itu. Peristiwa terkutuk yang teramat menyengsarakan rakyat sampai saat ini. Atau adakah ini balasan dari perbuatan durjana sebahagian besar rakyat kita yang terbangkit emosi dan naluri avonturir vandal dengan menjarah, merusak dan membakar pusat pusat perbelanjaan, pertokoan dan perkantoran diseluruh Indonesia ya. Akibat yang terutama tentu saja timbul korban jiwa yang terjadi di kalangan para penjarah sendiri. Karena terjebak dalam awan asap dan hawa sangat panas yang timbul akibat kobaran api didalam gedung yang disulutnya sendiri. Kedua timbul dekadensi moral dikalangan rakyat, karena sadar telah melakukan perbuatan biadab. Ketiga, tak sampai seminggu selepas peristiwa itu, mulai terasa akibatnya terutama masalah ekonomi keseharian. Karena kelangkaan bahan baku, akibatnya harga harga mulai merayap naik.

Selagi masih ingtat, akan saya tuliskan apa apa yang saya saksikan atau apa apa yang saya dengar dari para saksi mata selama 3 hari itu. Bagi teman2 yang mau menceritera pengalaman pribadi atau apa yang didengar dari sumber sumber yang dipercaya. Silahkan tulis di komen. Kalau punya gambar2 yang mendukung, silahkan tulis dan attach di ID f_mylla@yahoo.com. Ini perlu buat kenangan pribadi dan pengetahuan bagi anak cucu yang lahir setelah tahun 1990. Umur 8 tahun tentunya ingatan masih samara samara.